Doesoen Kopi Sirap: Agrowisata dan Produksi Kopi Organik

Senin, 29 November 2021 13:22 WIB

Foto : Kopi tidak hanya konsumsinya saja yang tinggi tapi kopi bisa juga digunakan sebagai kesehatan dan kecantikan.


Agronews.idSemarang, Benar, agrowisata tidak hanya memberikan keindahan alam tapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat luas. Bahkan agrowisata juga menggerakkan ekonomi daerah dan masyakat disekitarnya.

Kopi tidak hanya konsumsinya saja yang tinggi tapi kopi bisa juga digunakan sebagai kesehatan dan kecantikan. Bahkan kopi pun bisa dijadikan sebagai tempat agrowisata seperti yang ada di Doesoen Kopi Sirap yang merupakan pengembangan usaha dari Kelompok Tani Rahayu IV Doesoen Sirap Desa Kelurahan Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang yang terletak dilereng Gunung Kelir.

Ketua Kelompok Tani Rahayu IV Doesoen Sirap, Ngadianto menerangkan berawal dari kedatangan Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo pada tahun 2013, pada saat itu mendekati Hari Pangan Nasional dan Dusun Sirap diminta untuk mewakili lomba Adhikarya Pangan Nusantara di tingkat nasional. Sebagai hadiahnya pihak Dusun Sirap meminta di bangunkan armada dan gedung sekretariat kepada Gubernur.

Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pada bulan April 2017 resmi dibuka Agrowisata Kopi Sirap yang diberi nama “Doesoen Kopi Sirap” dengan tema “Mlosok Ngopi Ngangeni”. “Salah satu agrowisata yang memanfaatkan keindahan alam ditengah-tengah perkebunan kopi dengan udara yang masih bersih dan sejuk, sehingga sangat nyaman untuk tempat bersantai sambil menikmati seruputan kopi yang menjadi salah satu produk unggulan di Agrowisata Kopi Sirap,” ungkap Ngadianto.

Lebih lanjut, Ngadianto menjelaskan, “Doesoen Kopi Sirap” tidak hanya menyediakan keindahan alam dan produk olahan kopi serta makanan olahan khas Doesoen Sirap sebagai pendamping minum kopi, namun di Agrowisata Kopi Sirap juga bisa belajar tentang bagaimana membudidayakan tanaman perkebunan kopi mulai dari menanam sampai panen, pasca panen hingga pengolahan dan cara penyajian kopi yang beraroma khas mocca.

Seperti diketahui, Dusun Sirap memberikan kopi terbaik karena Dusun Sirap melakukan budidaya kopi secara organik. Bahkan secara geografi Dusun Sirap terletak pada ketinggian 600-1.050 meter diatas permukaan laut (mdpl) dengan topografi bukit hingga berlereng. Luas hamparan total 122,25 hektar (ha), yang peruntukannya meliputi Tegal 116 ha, Pekarangan 4,25 ha dan lain-lain 2,30 ha.

“Kondisi agroklimat yang mendukung, mendorong petani menanam tanaman-tanaman perkebunan disamping tanaman kayu-kayuan untuk konservasi lahan. Komoditas utama berupa tanaman kopi, cengkeh, aren, salak, nangka dan tanaman-tanaman kehutanan,” jelas Ngadianto.

Ngadianto menerangkan, untuk mengelola Doesoen Kopi Sirap maka melibatkan seluruh masyarakat sekitar. Adapun anggota Kelompok Tani Rahayu IV dengan total anggota sebanyak 40 orang mengusahakan tanaman kopi dengan luas lahan budidaya kurang lebih 35 ha yang meliputi 25 ha tanaman kopi produktif dan 10 ha tanaman kopi muda untuk pengembangan.

“Disamping itu, terdapat pula tanaman kehutanan seperti aren, nangka, durian, alpukat dan empon-empon,” ujar Ngadianto.

Lebih lanjut, Ngadianto pun mengungkapkan, sejak adanya kegiatan SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu) tanaman kopi yang diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2004, petani mulai sadar akan pentingnya budidaya tanaman sehat.

“Oleh karena itu, melalui wadah Kelompok Tani Rahayu IV ini mereka mulai menerapakan inovasi-inovasi teknologi yang diperoleh dari SLPHT untuk merubah wajah kebun,” ungkap Ngadianto.

Ngadianto mengakui, bahwa kelompok mulai menggunakan bibit kopi yang bermutu, penggunaan pupuk bokashi dan anorganik yang tepat guna, perlakuan pemangkasan pengendalian hama dan penyakit dengan agensia hayati yang ramah lingkungan juga pasca panen kopi dengan petik merah, dan penjemuran dengan alas.

“Perubahan wajah kebun petani dapat dibuktikan dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas buah kopi yang dihasilkan. Produktifitas kopi di Kelompok Tani Rahayu IV bahkan mencapai 1,1 ton/ha pada tahun 2010, sedangkan kualitas nampak dari citarasa yang khas dari biji kopi yang dihasilkan,” jelas Ngadianto.

Terkait dengan komoditas organik, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjen Bun) yang dibawah Kementan juga komit untuk meningkatkan produksi komoditas organik dalam hal ini komoditas perkebunan, salah satunya kopi.

Seperti diketahui, saat ini masyarakat dunia sudah mulai mengarah kepada pangan sehat dengan mengkonsumsi produk-produk organik. Berdasarkan data Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2016 bahwa jumlah permintaan konsumen terhadap produk organik meningkat 54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Atas dasar itulah Ditjenbun membangun desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan yang saat ini sudah ada 150 desa. Hal ini dilakukan untuk memenuhi permintaan dari masyarakat dalam dan luar negeri akan kebutuhan produk organik.

“Upaya membangun perkebunan berwawasan lingkungan termasuk memenuhi permintaan pasar terhadap produk perkebunan berkualitas, dan sehat untuk dikonsumsi,” kata Ardi Praptono, Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjenbun, Kementan.

Menurut Ardi, setiap desa pertanian organik diberi input berupa ternak, rumah kompos, alat pencacah dan pembuat kompos. Adapun untuk mengendalikan penyakit dan hama pada tanaman atau organisme pengganggu tanaman (OPT) maka petani diajari membuat pestisida nabati dari daun-daun tanaman di sekitarnya juga agen pengendali hayati. Kemudian petani juga diajari cara membuat pupuk alami dimana bahan bakunya ada disekitar lingkungan.

Pemerintah melalui Ditjenbun juga telah mengalokasikan anggaran untuk pendampingan, penyediaan input produksi organik, dan sertifikasi organik untuk kelompok tani.

“Selain dari Pemerintah, dapat juga dibangun pola kemitraan saling menguntungkan antara kelompok tani dengan perusahaan eksportir komoditas organik,” ungkap Ardi. (NS/Humas Ditjenbun)

40

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.