Kelompok Wanita Tani dengan Laboratorium Kultur Jaringan Sederhananya Siap Mendukung Penyediaan Benih Pisang Bermutu

Jumat, 04 Maret 2022 10:31 WIB

Foto : Kelompok wani tani mengembangkan kampung hortikultura yang terdiri dari kampung buah, sayuran, tanaman obat dan florikultura. 


Agronews.id - Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura pada tahun 2022 mengembangkan kampung hortikultura yang terdiri dari kampung buah, sayuran, tanaman obat dan florikultura.  

Pengembangan kampung pisang mendapatkan perhatian khusus sebagai upaya untuk mendukung diversifikasi pangan, karena pisang yang kaya akan karbohidrat, vitamin dan mineral dicanangkan sebagai salah satu komoditas sumber karbohidrat pengganti nasi. Pada tahun 2023 menurut Direktur Buah dan Florikultura, Dr. Liferdi, rencana pengembangan pisang di berbagai wilayah membutuhkan benih sebanyak 2 juta batang dengan jenis pisang Kepok, Cavendis, Barangan merah, Mas Kirana dan Ambon Hijau.

Untuk memenuhi kebutuhan benih pisang tersebut perlu dilakukan rencana produksi benih pisang minimal satu tahun sebelumnya yaitu pada tahun ini, hal ini disampaikan oleh Direktur Perbenihan Hortikultura Dr. Inti Pertiwi Nashwari SP, MS. "Target produksi ditetapkan sebanyak lebih dari 2 juta benih pisang yang harus tersedia pada awal tahun 2023" tambahnya. Oleh sebab itu dari awal tahun 2022 sudah dijajagi kerjasama dengan berbagai produsen benih pisang yang ada di Indonesia, salah satunya adalah produsen benih pisang dengan kultur jaringan, KWT Bioteknologi Hortikultura yang berlokasi di Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung.

KWT ini  merupakan binaan dari Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu dibawah ketua kelompok Riyanti. Adalah Cahyo Widodo salah  seorang lulusan Perguruan Tinggi di Solo yang menggeluti produksi benih melalui Kultur Jaringan yang mempunyai ide untuk menggerakkan KWT ini dalam menghasilkan benih pisang melalui kultur jaringan. Dengan ketekunan dan fasilitas laboratorium yang sederhana inilah dihasilkan benih pisang melalui kultur jaringan yang kualitasnya tidak kalah dengan benih yang dihasilkan oleh laboratorium yang modern.

Pada saat menunjukkan fasilitas laboratorium sederhananya dengan ibu-ibu yang sedang bekerja dengan cekatan memilah-milah calon benih dalam cawan yang diterangi oleh lampu lalu dimasukkan ke dalam botol-botol steril yang sudah disiapkan, Cahyo menyampaikan bahwa motivasi terbesarnya adalah semangatnya untuk memberdayakan ibu-ibu yang tergabung dalam KWT. Benih pisang hasil perbanyakan kultur jaringan yang sudah berumur 1 bulan keluar dari botol “hardening” oleh Cahyo dibagikan kepada KWT untuk dilakukan pembesaran sampai siap salur benih dalam polybag  dengan ketinggian 20-30 cm. Dengan kegiatan ini ibu-ibu mendapatkan penghasilan dari bekerja di laborotorium yang melakukan subkultur dan penanaman benih pisang di dalam botol dan pembesaran/aklimatisasi benih pisang.

Lanjut dalam sambutannya Inti Pertiwi menyampaikan ini hal yang sangat luar biasa, dimana biasanya ibu-ibu rumah tangga diajarkan untuk usaha mengolah bahan makanan, namun  kali ini diberikan ketrampilan dan pekerjaaan melakukan subkultur dan penanaman benih pisang di laboratorium dan dilanjutkan pembesarannya sampai benih siap salur, dimana hal ini memerlukan pengetahuan dan ketrampilan minimal lulusan diploma pertanian.

Memang untuk penyediaan benih pisang dalam jumlah besar ini harus dilakukan dengan cara perbanyakan kultur jaringan, karena selain dapat menghasilkan dalam jumlah besar ukuran benih relatif seragam dan bebas dari penyakit dibandingkan dengan perbanyakan dengan anakan atau pecah bonggol. Oleh sebab itu KWT ditantang untuk menghasilkan benih dengan mutu yang sama dengan laboratorium yng modern, tambah Inti Pertiwi.

Pada kunjungan ke laboratorium kuljar KWT Bioteknologi, Inti meyampaikan kekagumannya dan memberikan apresiasi kepada Pemda Kabupaten Pringsewu Khususnya Dinas Pertanian, penyuluh dan aparat lainnya  yang telah berhasil membina, pendampingan dan pengawalan serta memfasilitasi berdirinya laboratorium tersebut Kultur Jaringan,  sehingga dapat memproduksi benih pisang seperti sekarang ini. 

Kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Lampung yang mengawal  dalam sertifikasi benih melalui penerapan penilaian proses produksi benih.  Dari laboratorium yang sangat sederhana dan pemberdayaan kelompok wanita tani dapat menghasilkan benih pisang yang tidak kalah dengan laboratorium kultur jaringan yang modern.  Sebagai apresiasi dalam penjajagan kerjasama produksi tersebut , Direktur Pebenihan berjanji akan memfasilitasi study banding Pak Cahyo dan staf Dinas Pertanian Pringsewu ke laboratorium Kuljar modern agar pak Cahyo dapat meniru proses produksi benih pisang melalui kuljar di laboratorium kuljar yang sudah modern.

Dalam sambutannya Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu yang mewakili Kadis Pertanian Pringsewu menyampaikan Suatu kebanggaan ditempat yang sangat sederhana dikunjungi oleh Direktur Perbenihan Hortikultura. Kami sangat mengharapkan sekali atas kunjungan ini bisa  ditindak lanjuti dengan kerjasama yang tentu saja saling menguntungkan dalam artian sama-sama bisa transfer teknologi bisa transfer ilmu dan lain sebagainya dalam rangka mewujudkan kabupaten Pringsewu yang bersahaja. 

Potensi pertanian di kabuaten Pringsewu apabila dilihat dari luas lahan relatif  tidak seluas lahan pertanian di kabupaten lainnya yaitu dengan  total luas  perkebunan 44.000 hektar sekitar 13.900 itu lahan kering nya hortikultura dan termasuk sekitar 4000 hektar, Oleh karena itu Pak Bupati selalu menekankan, kalau dari segi produksi kita memang kalah tapi dari segi kualitas kita harus nomer 1, salah satunya yaitu dengan keberadaan laboratorium kultur jaringan ini.

Jadi banyak sekali benih-benih tanaman yang kita usahakan bisa diproduksi melalui laboratorium kultur jaringan ini  seperti benih kelapa kopyor dan jati. Dalam kesempatan yang berbeda arahan Dirjen Hortikultura, Dr. Prihasto Setyanto, untuk kerjasama produksi benih pisang ini harus dipastikan agar para produsen benih benar-benar menyanggupi sesuai kemampuannya, jangan menyatakan sanggup berproduksi 500 rb batang, kenyataannya pada akhir kontrak tidak dapat memenuhinya, sehingga program penyediaan benih pisang ini akan terhambat dan yang pada akhirnya program kampung pisang ikut terhambat juga. 

Hasil identifikasi Direktur Perbenihan dan Pak Cahyo, Laboratorium kultur jaringan KWT Bioteknologi Hortikultura dengan kondisi yang ada dan stok benih sumber serta jenis pisang dibutuhkan diprediksi mampu menghasilkan 270 rb batang benih pisang terdiri dari jenis pisang Cavendish, Barangan, Kepok Tanjung dan Raja Bulu yang diharapkan bisa siap salur secara bertahap dari mulai Januari sampai dengan Juni 2023.

 

Kontributor :

Wiwi Sutiwi

Fungsional PBT Madya

 

297

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.