Foto : Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, mengunjungi Kabupaten Jepara untuk percepatan panen dan antisipasi penyerangan Organisme Pengganggu Tumbuhan atau OPT.
Agronews.id, Jepara - Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, mengunjungi Kabupaten Jepara untuk percepatan panen dan antisipasi penyerangan Organisme Pengganggu Tumbuhan atau OPT.
Dalam kunjungannya itu, Dirjen Suwandi memberikan sosialisasi tentang langkah antisipatif yang harus dilakukan para petani dalam mengantisipasi penyerangan OPT.
Kemudian, dia juga meminta kerja sama petani agar stabilisasi harga beras dapat diwujudkan, sehingga petani pun tidak dirugikan.
Dengan langkah-langkah tersebut, Dirjen Suwandi meyakini para petani nantinya dapat memenuhi kebutuhan pasar, namun juga menghindari kemungkinan jatuhnya harga, maka stabilitas keduanya perlu diupayakan.
"Jangan sampai harga jatuh apalagi yang sebelah Utara, Jepara Utara, sekarang banyak panen. Jadi minta tolong teman-teman yang Jepara sebelah Utara hubungi nanti dikasih tahu, pak kadis tadi sudah nyatet juga," ucap Dirjen Suwandi.
Di wilayah ini, kata dia, masih banyak petani yang belum atau tidak memasok berasnya ke gudang Bulog. Sehingga, upaya-upaya yang disosialisasikan tadi harus mulai dilakukan. Karena salah satu penyebab minimnya pasokan beras adalah gagalnya panen.
"Jadi ini masih banyak, ada beras yang belum masuk minimal 30 ribu ton, itu kalau dijadikan gabah ya sekitar berapa, 60 ribu ton gabah ya, kira-kira itu yang diserap angka minimal," tuturnya.
Dirjen Suwandi mengingatkan para petani agar mengirim padinya ke gudang Bulog yang harga jualnya bisa mencapai Rp7.400. Namun dengan catatan kadar airnya 14 persen.
"Kalau sekarang sudah terlanjur panen simpen gabah di rumah, sudah kering namanya GKG, Gabah Kering kadar air 14 persen, jualnya kesini juga, masih mau 7.400 (Rupiah), lebih bagus kan? Cocok ga? Tapi kadar air 14 persen," terangnya.
Sebagai Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi juga menghubungkan langsung kedua pihak, yaitu pihak petani dan pihak Bulog agar bekerja sama lebih baik lagi.
"Kalau dulu biasanya ngambil dulu gabah atau beras ke gudang Bulog. Biasanya nantinya tetap suruh bayar pula, sekarang sudah berubah, jadi kalau bapak tadi harganya murah banget 4,8-5,5 minta tolong pak ketua nanti ketemu mas Adi (pihak Bulog), ditulis nomornya ditulis," ungkapnya.
Dirjen Suwandi menyampaikan bahwa arahan memasok beras ke Bulog adalah demi kepentingan petani, untuk mendapatkan harga yang lebih layak.
"Jadi tolong kalau ada harga jatuh kayak tadi 4,8 - 5,5, itu tolong ke Bulog saja itu harganya 6 ribu," jelasnya.
Pada kegiatan itu, Dirjen Suwandi juga berkesempatan untuk mengunjungi langsung lahan pertanian dari salah satu kelompok tani.
Dia mengapresiasi para petani setempat yang semangat menaikkan IP hingga 400.
"Ini luar biasa kelompok tani luas lahannya 15 hektare, dan sudah menanamkan prinsip-prinsip bertani yang baik, IP 300, produktivitas sekitar 68, dan kelompok tani semangat buat mengejar IP 400," ujarnya.
IP 400 menurut Suwandi, dapat dilaksanakan sesuai dengan arahan Menteri Pertanin (Mentan) Andi Amran Sulaiman, yaitu dengan percepatan tanam.
"(Mengejar IP 400) dengan berbagai upaya-upaya salah satunya solusi air untuk memperpendek jarak antara masa panen dan tanam, aspek mekanisasi percepatan olah tanah termasuk untuk panennya, dan ini semangat saya ingin berlaku untuk desa-desa di kecamatan lain se-Kabupaten Jepara," pungkasnya.
Selain Kabupaten Jepara, Dirjen Suwandi juga mengunjung Kabupaten Grobogan untuk meminjau langsung masalah-masalah yang dihadapi oleh kelompok tani.
Misalnya, Kelompok Tani Mudi Rezeki dengan luas lahan 215 hektare, mereka mengalami kendala atau masalah gagal panen, banjir musiman, serta hama seperti tikus.
Di Kabupaten Grobogan, Kecamatan Tegowanu, Desa Mangunsari sendiri luas sawah mencapai 4.093 hektare dengan varietas Inpari 32, IP 200, dengan provitas 6.500, harga gabah petani 6.500 per kilo dan biaya produksi mencapai Rp15 juta.
Dirjen Suwandi juga mengunjungi Kelompok Tani Rahayu yang memiliki lahan seluas 25 hektare, terletak di Desa Bandengan, Kecamatan Jepara.
Di wilayah tersebut diketahui bahwa total luas mencapai 321 hektare, varietas Inpari 3 dengan IP 200, harga gabah petani 5.600 rupiah per kilo, dan biaya produksi mencapai Rp6,5 juta.
“Kendala yang dialami para petani di sini adalah penggerek batang. Kita akan segera bantu dan koordinasi untuk penangannannya,” pungkas Dirjen Suwandi.
Selama kunjungan, Dirjen Suwandi juga memberikan arahan dan pencerahan kepada kelompok tani setempat soal antisipasi OPT dan percepatan tanam, karena itu banyak pihak yang terbantu, khususnya para petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Jepara, Diyar menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi atas kunjungan, serta arahan yang diberikan kepada para petani di wilayahnya.
"Pertama-tama kami mewakili Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Jepara, mengucapkan terima kasih atas kunjungan Pak Dirjen dan (yang telah) memberikan pencerahan dan arahan kepada kelompok tani, dan kami semuanya. Sehingga kami paling tidak ke depan bisa berbudidaya lebih baik lagi dan yang terpenting tadi kita garis bawahi, jangan sampai 5 tahun ini dengan varietas sama, tetapi harus kita coba dengan varietas yang baru, untuk memotong siklus hama," ujar Diyar.
Selain itu, Ngadino mewakili TNI AD Pasiter Kodim 079 Jepara, juga mengucapkan terima kasih kepada Kementan. Ia melaporkan bahwa pompanisasi sudah digelar di wilayahnya.
"Kami mengucapkan terima kasih kepad Bapak Dirjen Kementan RI, yang mana pada hari ini berkunjung ke Desa Bandengan Kecamatan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ya syukur Alhamdulillah, dipertemukan di area tanam untuk percepatan tanam program Kementan, dan melalui MOU TNI Alhamdulillah di wilayah Jepara berjalan dengan aman, termasuk pompanisasi sudah tergelar semuanya dan mudah-mudahan Jepara menjadi wilayah yang ketahanan pangannya meningkat," ungkap Ngadino.
130
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.