Gelar INSIDE di INAGRITECH, Kementan Pacu Transformasi Pertanian Modern

Sabtu, 02 Agustus 2025 22:46 WIB

Foto : Talkshow INSIDE di JIExpo Kemayoran, yang digelar pada 29–31 Juli 2025.


Agronews.id, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan sejumlah inovasi mekanisasi terbaru dalam gelaran INSIDE (Inspiring to Develop), sebuah talkshow yang menjadi bagian dari ajang INAGRITECH 2025. Kegiatan ini menjadi upaya konkret dalam mendorong transformasi pertanian Indonesia dari sistem tradisional menuju pertanian modern.

Talkshow INSIDE yang diselenggarakan oleh Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, tidak hanya sebagai forum penyampaian inovasi, tetapi juga sebagai ruang pengembangan diri, diskusi inspiratif, dan pembentukan karakter generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam kemajuan sektor pertanian.

Salah satu inovasi yang dipresentasikan adalah prototipe Gerobak Sorong Bertenaga Listrik (Wheel Barrow) yang diperkenalkan oleh Dr. Lila Yuwana, dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Inovasi ini dirancang untuk mendukung efisiensi transportasi hasil pertanian dan meringankan beban kerja petani, terutama dalam mengangkut hasil panen seperti Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Menurutnya, tantangan krusial selama ini terletak pada pengangkutan manual TBS, yang seringkali menyebabkan penurunan produktivitas dan keluhan muskuloskeletal pada pekerja, akibat berat TBS yang dapat mencapai 44 kg.

“Gerobak sorong listrik ini hadir untuk mengatasi hambatan tersebut, dengan desain ergonomis, hemat energi, dan ramah lingkungan,” ujarnya dalam talkshow INSIDE di JIExpo Kemayoran, yang digelar pada 29–31 Juli 2025 dengan tema “Mendorong Inovasi dalam Industri Pertanian dan Kimia Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan.”

Prototipe ini menggunakan motor listrik DC 24 volt bertorsi tinggi, dan dikendalikan melalui sistem pengontrol kecepatan sederhana yang mudah dioperasikan petani. Daya gerak dan kecepatannya telah disesuaikan dengan medan pertanian. Uji coba awal menunjukkan gerobak ini mampu mengangkut beban hingga 100 kg secara efektif.

Dr. Lila menambahkan bahwa prototipe ini sudah siap diterapkan di perkebunan kelapa sawit, meskipun masih memerlukan peningkatan tampilan produk sebelum dikomersialisasikan.

“Saat ini tim kami juga berencana melengkapi gerobak dengan sensor berat, jarak tempuh, dan kecepatan, serta melakukan uji pasar dan mempersiapkan komersialisasi,” katanya.

Sementara itu, Chookumhee Jang dari Ilssang Industry Co., Ltd., Korea Selatan, memperkenalkan perangkat germinasi benih padi sederhana Choi-Agi (SP-300). Inovasi ini ditujukan untuk menggantikan metode germinasi tradisional yang selama ini dianggap merepotkan, tidak efisien, dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Perangkat tersebut mampu melakukan perendaman dan germinasi secara simultan di dalam air. Teknologi ini secara organik mengintegrasikan elemen-elemen penting seperti kelembaban, suhu konstan, dan pasokan oksigen yang memadai.

Hasilnya, benih dapat berkecambah dalam waktu sekitar 48 jam dengan tingkat germinasi hingga 90% dan keseragaman lebih dari 85%. Perangkat ini telah diuji coba di Indonesia, termasuk di Pusat Penelitian Padi Subang pada 1 Oktober 2024.

Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan), Agung Prabowo menyatakan bahwa pihaknya fokus pada pengembangan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan petani serta kondisi agroekosistem di Indonesia.

“Industri pertanian kita harus berani berevolusi, dan kunci utamanya adalah mekanisasi serta modernisasi berbasis riset dan inovasi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun ekosistem pertanian modern.

“Pertanian tidak lagi bisa berdiri sendiri. Kita harus bangun bersama, karena masa depan pangan nasional ada di tangan kita semua,” tegasnya saat side event Agro Technology Forum 2025, Rabu (30/7).

Hal ini sejalan dengan komitmen Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang secara konsisten mendorong transformasi pertanian dari sistem tradisional ke sistem modern berbasis mekanisasi dan digitalisasi. Mentan Amran menilai bahwa pertanian Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan cara lama untuk menjawab tantangan zaman.

“Pertanian tidak bisa maju tanpa transformasi dari metode tradisional menuju modern. Ini adalah tantangan besar, tetapi dengan kerja keras dan inovasi, kita optimis bisa mencapainya,” tegas Mentan Amran dalam berbagai kesempatan.

Lebih lanjut, Mentan Amran menekankan bahwa modernisasi bukan hanya soal alat, tetapi menyangkut dampak nyata bagi petani.

“Perubahan dari pertanian tradisional ke pertanian modern adalah suatu keharusan bertujuan untuk menekan biaya produksi hingga 50 persen sekaligus meningkatkan hasil produksi hingga 100 persen,” ujarnya.

129

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.