Foto: Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, melalui audiensi dan koordinasi lintas sektor pada Rabu (9/4).
Agronews.id, Sumedang— Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mempercepat implementasi program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP) di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, melalui audiensi dan koordinasi lintas sektor pada Rabu (9/4). Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan daerah dalam mengembangkan hortikultura lahan kering secara berkelanjutan melalui penguatan kelembagaan, infrastruktur, serta kapasitas petani dari hulu hingga hilir.
Direktur Buah dan Florikultura Kementan, Fausiah T. Ladja, mengatakan bahwa HDDAP merupakan program kolaborasi antara Kementerian Pertanian dengan Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) yang berlangsung pada periode 2024–2028.
“HDDAP menargetkan pengembangan 10.000 hektare klaster hortikultura di lahan kering yang tersebar di tujuh provinsi,” ujar Fausiah saat membuka audiensi di Kantor Bupati Sumedang.
Ia menjelaskan, capaian Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) secara nasional telah mencapai 6.802 hektare atau sekitar 67,90 persen dari target 10.017,81 hektare. Meski sejumlah wilayah telah melampaui target pada komoditas tertentu, sebagian besar kabupaten masih perlu percepatan.
“Percepatan implementasi HDDAP harus didukung kesiapan CPCL yang matang, penguatan kelembagaan petani, serta integrasi dari hulu hingga hilir agar manfaat program dapat dirasakan optimal oleh petani,” katanya.
Secara khusus di Sumedang, pengembangan HDDAP difokuskan pada komoditas mangga seluas 363,8 hektare di Kecamatan Jatigede, Tomo, dan Ujungjaya, serta cabai seluas 280,16 hektare di Kecamatan Pamulihan, Tanjungsari, Sukasari, dan Rancakalong. Pengembangan klaster mangga mencakup peningkatan populasi tanaman seluas 167,67 hektare dan perbaikan tata kelola kebun eksisting seluas 196,13 hektare.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai dukungan, mulai dari sarana pelindungan tanaman melalui Klinik Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penguatan perbenihan, pembangunan infrastruktur irigasi, hingga pengembangan pascapanen, pengolahan, pemasaran, dan kelembagaan petani.
Selain itu, peningkatan kapasitas petani dilakukan melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP), literasi keuangan, serta pemasaran digital guna meningkatkan nilai tambah produk hortikultura.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah pusat menjadikan daerahnya sebagai lokasi program HDDAP.
“Kami bersyukur Sumedang menjadi satu-satunya kabupaten di Jawa Barat yang menerima program ini. Kami berharap HDDAP mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Ia juga menargetkan komoditas mangga Sumedang dapat menembus pasar ekspor sekaligus dikembangkan sebagai kawasan agrowisata unggulan.
“Kami memiliki visi ke depan agar Sumedang dapat memiliki kawasan agrowisata mangga seperti apel di Malang, sehingga mampu mendorong ekonomi daerah berbasis ekowisata,” katanya.
Terkait infrastruktur, Dony menekankan pentingnya percepatan pembangunan irigasi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan.
“Kita harus menyimpan air sebanyak mungkin dan mempercepat pembangunan irigasi. Saya minta dinas terkait segera mengeksekusi agar pada Juli, saat potensi El Nino, kebutuhan air sudah dapat teratasi,” tegasnya.
Ke depan, Kementerian Pertanian akan mempercepat finalisasi dokumen perencanaan, verifikasi CPCL, pembangunan infrastruktur pendukung, serta memperkuat pendampingan teknis dan kelembagaan petani. Melalui sinergi pemerintah pusat, daerah, dan mitra pembangunan, HDDAP diharapkan menjadi motor penggerak transformasi hortikultura lahan kering yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
34
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.