Foto: Audiensi progres pelaksanaan HDDAP bersama Bupati Wonosobo pada Jumat, 10 April 2026 di Pendopo Kabupaten Wonosobo.
Agronews.id, Kabupaten Wonosobo — Pelaksanaan Horticulture Development of Dryland Areas Sector Project (HDDAP) di Kabupaten Wonosobo sejak tahun 2022 kini menunjukkan perkembangan yang baik, Kabupaten wonosobo mencatatkan diri menjadi kabupaten dengan dokumen Horticulture Cluster Development Plan (HCDP) 3 terbaik nasional, dengan pengembangan klaster hortikultura berbasis komoditas unggulan kentang.
Program HDDAP memasuki tahap percepatan sejak tahun 2024 melalui kegiatan kick off di Surabaya dan berlanjut pada implementasi di lapangan. Konsistensi pelaksanaan serta sinergi antar pemangku kepentingan menjadi kunci utama capaian positif di Kabupaten Wonosobo.
Sebagai bagian dari penguatan pelaksanaan program, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura menyelenggarakan audiensi progres pelaksanaan HDDAP bersama Bupati Wonosobo pada Jumat, 10 April 2026 di Pendopo Kabupaten Wonosobo. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pusat dan daerah, antara lain Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ketua Tim Kerja Penerapan Keamanan Mutu Hortikultura, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Direktorat Hilirisasi Hasil Hortikultura, perwakilan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Camat Kejajar dan Watumalang, Tim Teknis HDDAP Kabupaten Wonosobo, District Implementation Team HDDAP, Koordinator BPP Kecamatan Kejajar dan Watumalang, para kepala desa, serta perwakilan kelompok tani dan pengurus BUMDes.
Secara nasional, HDDAP merupakan bantuan luar negeri yang berasal dari Asian Development Bank (ADB) bersama International Fund for Agricultural Development (IFAD) kepada Pemerintah Indonesia yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian, dengan cakupan 13 kabupaten di 7 provinsi pada periode 2024–2029. Program ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan sektor hortikultura, mulai dari rendahnya produktivitas dan daya saing, keterbatasan infrastruktur dan akses air, hingga belum optimalnya pemanfaatan lahan kering yang mencapai sekitar 53 juta hektare.
Di Kabupaten Wonosobo, capaian progres terbaik nasional tercermin dari berbagai indikator kunci, antara lain terbentuknya tiga dokumen Horticulture Cluster Development Plan (HCDP), serta implementasi intervensi strategis seperti penyediaan benih unggul, penguatan irigasi adaptif, hingga pengembangan hilirisasi dan pemasaran. Total luasan pengembangan mencapai 619,47 hektare dengan melibatkan lebih dari 3.100 petani.
Penguatan program juga ditunjukkan melalui penetapan tiga klaster prioritas tahun 2026, yaitu klaster kentang di Jojogan serta dua klaster salak di Watumalang. Berbagai kegiatan strategis terus dilakukan, mulai dari fasilitasi benih sumber kentang varietas Granola, bimbingan teknis dan sekolah lapang, penguatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), hingga dukungan pemasaran digital dan kemitraan dengan offtaker.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muhammad Agung Sunusi, menegaskan bahwa HDDAP merupakan langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing hortikultura nasional, sekaligus mengoptimalkan potensi lahan kering yang besar di Indonesia.
“Saat ini produktivitas dan daya saing hortikultura kita masih perlu ditingkatkan. Melalui HDDAP, intervensi dilakukan secara terarah dan berkelanjutan, termasuk optimalisasi pemanfaatan lahan kering yang potensinya sangat besar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi dalam meningkatkan nilai ekonomi produk hortikultura. “Ke depan, produk hortikultura tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah agar memiliki nilai tambah lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menyampaikan apresiasi atas capaian progres HDDAP yang dinilai sangat baik dan menjadi yang terbaik secara nasional. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, serta para pelaku usaha tani.
“Wonosobo memiliki potensi besar sebagai pemasok komoditas hortikultura. Namun, kita juga menghadapi tantangan seperti anomali iklim dan dinamika global, sehingga diperlukan kesiapan dan kemampuan adaptasi dari seluruh pelaku pertanian,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia amenegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam mendukung keberlanjutan program melalui penguatan sinergi dan koordinasi lintas sektor.
“Kami akan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dengan pemerintah pusat serta seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” tegasnya.
HDDAP di Kabupaten Wonosobo diharapkan mampu menjadi model pengembangan hortikultura berbasis klaster yang efektif, sekaligus mendorong peningkatan produktivitas, daya saing, dan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
36
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.