Hilirisasi dan Kelembagaan Sudah Matang, 3 Komoditas Unggulan Kab. Lumajang Siap Sukseskan HDDAP

Selasa, 14 April 2026 19:42 WIB

Foto: Program ini diarahkan pada modernisasi pertanian, penguatan kelembagaan, serta membuka akses petani ke pasar yang lebih luas.


Agronews.id, Lumajang, Jawa Timur– Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, mewakili Bupati, membuka rangkaian kegiatan HDDAP dengan menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong kesejahteraan petani melalui pengembangan 1.000 hektare kawasan pertanian modern. Program ini diarahkan pada modernisasi pertanian, penguatan kelembagaan, serta membuka akses petani ke pasar yang lebih luas. Ia menyoroti bahwa selama ini dalam siklus pertanian, keuntungan besar kerap dinikmati oleh tengkulak. “Ini yang akan coba diubah dari program ini,” ujarnya. Harapan tersebut sejalan dengan potensi komoditas unggulan Lumajang seperti pisang mas kirana dan manggis yang telah menembus pasar ekspor, serta komoditas kentang yang juga memiliki kualitas yang tidak kalah baik.

Mewakili Direktur Perbenihan, Direktur Buah dan Florikultura, Fausiah T. Lajda menyampaikan bahwa HDDAP merupakan program strategis yang hanya dilaksanakan di 13 kabupaten di Indonesia. Di Jawa Timur sendiri terdapat tiga kabupaten, termasuk Lumajang. “Ini perlu disyukuri bersama, karena Lumajang mendapatkan program HDDAP di 3 Kabupaten Sekaligus” ujarnya. Ia juga menyampaikan pentingnya penjadwalan agar semua kegitan dapat di monitoring dan berjalan sesuai perencanaan. 

Dalam mendukung hilirisasi, koordinasi dengan offtaker terus dilakukan sejak tahap awal perencanaan. Hal ini penting agar standar dan kebutuhan pasar dapat dipahami sejak dini. “Kita harus tahu kriteria dan SOP dari offtaker sebelum produksi dilakukan,” sehingga dapat mengantisipasi risiko hasil panen yang tidak memenuhi standar dan akhirnya tidak terserap pasar. Dengan demikian, proses produksi dapat lebih terarah sesuai permintaan pasar dan meminimalkan potensi kerugian petani.

Penguatan hilirisasi semakin terlihat saat dilakukan kunjungan lapangan di sejumlah titik, di antaranya Jambearum, Desa Jambekumbu, dan Pakel. Di tingkat lapangan, hasil panen petani menjadi titik awal dari rantai hilirisasi yang kemudian terhubung dengan fasilitas pascapanen.

Kunjungan lapang di Kecamatan Gucialit, menjunjukan fasilitas packing house dengan kapasitas 2–2,5 ton per hari berfungsi dengan baik sebagai pusat pengumpulan serta proses awal pascapanen, seperti sortasi dan grading untuk menentukan kualitas dan tujuan distribusi. Hasil yang telah melalui proses ini kemudian menjadi salah satu pemasok utama bahan baku untuk kebutuhan pengolahan hasil pertanian bernilai tambah. 

Tenaga Ahli, Heru Widodo, turut menyoroti perkembangan tersebut. “Dulu packing house  ini belum dimanfaatkan secara optimal, namun sekarang sudah terintegrasi dengan alur hilirisasi” ujarnya. Ia menegaskan bahwa penguatan fungsi packing house menjadi bagian penting dalam memastikan nilai tambah tetap berada di tingkat petani.

Selanjutnya, di Desa Jambekumbu, Kelompok Tani Mawar Indah memanfaatkan bangsal pascapanen untuk mengolah hasil tersebut menjadi produk bernilai tambah. Dengan alur ini, hilirisasi tidak hanya berhenti pada distribusi produk segar, tetapi juga mendorong pengolahan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi bagi petani. Dengan kebutuhan pasar mencapai sekitar 1.500 ton dan kemampuan suplai sekitar 750 ton, peluang peningkatan produksi dan lahan masih sangat terbuka, hal ini sejalan dan dapat didukung langsung oleh program HDDAP.

Tidak hanya itu, hilirisasi di Kecamatan Gucialit juga menunjukkan pemanfaatan hasil samping yang optimal. Bahkan, batang pisang dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sehingga memberikan nilai tambah tambahan bagi petani sekaligus mengurangi potensi limbah di lapangan. Hal ini memperkuat bahwa hilirisasi tidak hanya berfokus pada produk utama, tetapi juga pada efisiensi dan keberlanjutan dalam keseluruhan rantai produksi.

Kolaborasi dengan offtaker Sewu Segar Nusantara (SSN) juga menunjukkan hasil positif dalam menjaga kualitas pisang mas kirana agar sesuai dengan standar pasar. Dengan adanya kepastian pasar, petani memiliki arah yang jelas dalam proses produksi, baik dari sisi kualitas maupun kontinuitas pasokan. Hal ini sekaligus memperkuat peran kelembagaan petani agar mampu menjembatani proses dari hulu hingga hilir secara lebih terstruktur.

Dari sisi teknis, kesiapan budidaya juga semakin matang. Penggunaan benih kultur jaringan untuk pisang kirana terus didorong, disertai pengendalian hama penyakit seperti layu fusarium melalui agen hayati Trichoderma yang telah diteliti oleh laboratorium di Tanggul. Tantangan penularan melalui alat pertanian juga telah diantisipasi dengan upaya sterilisasi di lapangan.

PIC Kabupaten Lumajang, Ircham Riyadi, memastikan bahwa seluruh tahapan kegiatan telah berjalan sesuai prosedur. “Sebelum penanaman kita juga nanti ada sekolah lapang, jadi tidak perlu ragu, kegiatan ini akan berjalan,” ujarnya. Kegiatan Training of Trainers (TOT) juga telah disiapkan dengan melibatkan berbagai pihak sebagai bentuk penguatan kapasitas sumber daya manusia di lapangan.

Menutup rangkaian kegiatan, seluruh pihak menegaskan pentingnya pengawalan dan sinergi antar pemangku kepentingan. Dengan kesiapan hilirisasi dan penguatan kelembagaan yang semakin matang, Kabupaten Lumajang optimistis program ini dapat berjalan optimal. “Tujuan kita sama, mendukung kesejahteraan petani,” sebagai komitmen bersama dalam menyukseskan HDDAP secara berkelanjutan.

67

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.