Foto : Kementan Dorong Pekebun Tingkatkan Potensi Produk Perkebunan.
Agronews.id, Jakarta - Saat ini sekitar 20% ekspor komoditas perkebunan masih dalam bentuk Fresh Product atau Raw Material (bahan baku/bahan mentah), kedepan dalam menghadapi persaingan pasar global yang kian ketat, maka target potensi produk ekspor komoditas perkebunan kedepan didorong menjual lebih dari 95% berupa produk turunan bernilai tambah kecuali ekspor produk yang masih dimanfaatkan dalam bentuk raw material seperti benih tanaman dan jenis produk mentah untuk keperluan tertentu.
Seiring dengan perkembangan teknologi, minat dan kebutuhan pasar, sudah saatnya pemerintah lebih menggenjot potensi hasil olahan atau produk dari komoditas perkebunan yang bernilai tambah dan berdaya saing tinggi, salah satunya melalui program Gratieks yang menyasar potensi Hibridisasi untuk semua produk perkebunan bernilai tambah tinggi atau produk olahan.
Berbagai bentuk potensi Hibridisasi komoditas perkebunan yang saat ini sangat diminati/ dibutuhkan di pasar Internasional Seperti produk kelapa sawit (dalam bentuk PKE, Biomassa, Minyak Goreng/RBD, Biodiesel, POME, FAME, dll), produk karet (dalam bentuk TNSR/ SIR, Sarung Tangan, Ban, aspal karet, dll), produk kelapa (dalam bentuk VCO, CCO, Charcoal, Cocofibre, Cocopeat, Nata De Coco, RTD/ ready to drink, isotonic water dll), produk kakao ( dalam bentuk Cocoa Powder, Cocoa Cake, Nata De Cocoa, Cocoa Pasta, Cocoa Butter, Cokelat, dll). Belum lagi ditambah dengan produk kopi (dalam bentuk Kopi Bubuk, Roasted, Decafeinated Coffee, Cascara, Drip Coffee, RTD/ ready to drink dll), produk rempah-rempah (dalam bentuk powder, dll), produk teh (dalam bentuk Artisan tea, Herbal tea, Organik Tea, dll) dan produk mete (dalam bentuk Kacang Mete, Varian Rasa kacang Mete dan Cokelat, dll), serta komoditas perkebunan lainnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Ditjen Perkebunan, menyatakan bahwa volume ekspor komoditas perkebunan tahun 2021 sebanyak 43,65 juta ton atau senilai USD 40,61 juta atau Rp. 577,17 triliun Angka tersebut dinilai cukup membanggakan ditengah kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu sebagai akibat pandemic covid19 karena secara year on year volume ekspor tahun 2021 justru meningkat 2,7% dibandingkan tahun 2020 dan diikuti peningkatan pertumbuhan nilai ekspor yang mencapai 43,8%.
“Melihat potensi perkebunan yang luar biasa, pemerintah melalui Kementerian Pertanian khususnya Ditjen Perkebunan terus berupaya dalam mendukung dan mendorong pekebun dan pelaku usaha perkebunan agar meningkatkan mutu komoditas yang akan diekspor sebagaimana standar ekspor yang dibutuhkan pasar Internasional, ditambah perlunya meningkatkan level produk menjadi produk yang bernilai tambah dan berdaya saing, Hal ini sesuai instruksi Bapak Presiden RI dalam berbagai kesempatan bahwa segera menghentikan ekspor bahan mentah dan selanjutnya agar produk ekspor harus sudah dalam bentuk olahan, agar memiliki nilai tambah di dalam negeri sehingga akan menyerap lebih banyak tenaga kerja dan multiflier effeknya banyak” ujar Ali Jamil, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan (26/02).
Ali menambahkan, beberapa strategi dalam mengakselerasi Gratieks berupa pengembangan logistik benih, peningkatan produksi dan produktivitas, peningkatan nilai tambah, daya saing dan akses pasar, modernisasi perkebunan, penyediaan sarana dan prasarana, peningkatan kapasitas SDM, optimasi jejaring stakeholder serta regulasi yang melindung pekebun dalam mengembangkan komoditasnya dari hulu hingga hilir.
Selain itu pada aspek yang lebih teknis diperlukan rencana aksi dalam peningkatan ekspor produk perkebunan di pasar global, antara lain bagaimana pemahaman setiap aturan ekspor pertanian di dalam negeri dan negara tujuan ekspor, pembuatan dan penerapan pedoman serta penerapan e-traceability/ ketelusuran produk. Hal yang tidak kalah penting adalah tentunya tetap memperhatikan implementasi Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP), standarisasi mutu dan akses pasar ditingkat pekebun dan pelaku usaha perkebunan. Akses pasar disini bagaimana keterlibatan dalam upaya promosi dan diplomasi.
Selanjutnya dalam upaya diplomasi, peran pemerintah antara lain aktif membangun dan Optimalisasi kerjasama saling menguntungkan secara Bilateral, Regional dan multilateral : (sebagai contoh keterlibatan Indonesia dalam membuka perjanjian kerjasama dengan Australia; Australia/New Zealand, Japan, Belanda; China; Korea Selatan, Tunisia, UEA, Chile, negara EFTA, Uni Eropa, Eurasia dan lain sebagainya).
Tentunya upaya-upaya diplomasi dan promosi tersebut memerlukan optimalisasi peran KBRI, atase perdagangan dan Pertanian, perwakilan Kadin Indonesia dan diaspora Indonesia dalam memberikan informasi potensi market akses produk perkebunan di negara tujuan ekspor. Dari aspek promosi, diperlukan berbagai kegiatan dalam memperkenalkan produk perkebunan Indonesia dengan buyer-buyer di luar negeri dalam bentuk temu bisnis (Importer dan Exporter), memberikan market intelligent terkait akses informasi pasar produk perkebunan (Dinamika Harga Produk di Luar Negeri, Kebutuhan Produk Perkebunan suatu Negara, dan Standard mutu/persyaratan export) serta Melakukan pendampingan, pengawalan dan advokasi pemasaran produk serta keberterimaan produk.
"Diharapkan kedepannya hasil olahan produk komoditas perkebunan akan semakin berdaya saing dan bernilai tambah tinggi khususnya dari segi mutu baik dan dapat dipertahankan sesuai standarisasi pasar internasional. Dengan adanya produk yang bernilai tambah tentunya akan berdampak pada penerimaan pekebun jika dibandingkan dengan produk yang digolongkan bahan mentah atau raw material. Pada akhir rantai pasar, tentunya akan ditemukan peningkatan kesejahteraan pekebun. Dari peningkatan kesejahteraan tersebut tentunya sangat diharapkan akan semakin banyak generasi milenial tertarik dengan berkebun. Dengan berkebun yang diidentikkan dengan kata “kotor dan panas” akan muncul kata “kaya dan menguntungkan”. Selain itu produk perkebunan yang mampu berdaya saing, otomatis akan meluas cakupan pasarnya di perdagangan Internasional dan tentunya meningkatkan taraf perekonomian pekebun dan penggiat usahanya," ujar ali.
163
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.