Foto : Acara Ngobras Volume 26 yang digelar Selasa (12/08/2025).
Agronews.id, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) aktif mendorong penerapan pertanian organik melalui berbagai program pelatihan, pendampingan dan dukungan kebijakan bagi petani dan penyuluh pertanian.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa pendekatan bertani dengan biaya murah dan ramah lingkungan merupakan salah satu pilar keberlanjutan sektor pertanian nasional.
“Kita tidak hanya ingin petani kita sejahtera, tapi juga alam kita tetap lestari. Teknologi, inovasi, dan kearifan lokal harus berjalan beriringan. Dengan begitu, kita bisa menjaga tanah, air, dan udara, sekaligus meningkatkan pendapatan petani,” ujar Mentan Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Ashanti menegaskan pentingnya peran penyuluh pertanian dalam mentransfer pengetahuan dan mendorong perubahan perilaku petani.
“Penyuluh adalah ujung tombak perubahan di lapangan. Melalui forum seperti Ngobrol Asik Bareng Penyuluh atau Ngobras, kami ingin ide-ide inovatif seperti yang dapat menyebar luas dan menginspirasi penyuluh serta petani di seluruh Indonesia,” ucap Kabadan Santi.
Sementara, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Tedy Dirhamsyah menyampaikan bahwa seiring dengan meningkatnya tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, dan kebutuhan akan ketahanan pangan berkelanjutan, sehingga pentingnya penguatan penyuluhan dalam penerapan praktik pertanian ramah lingkungan.
Saya berharap seluruh jajaran penyuluhan pertanian dapat menjadi garda terdepan dalam mendorong transformasi sistem pertanian yang tidak hanya produktif tetapi juga lestari dan ramah terhadap lingkungan, ujar Tedy.
Menindaklajutinya, pada acara Ngobras Volume 26 yang digelar Selasa (12/08/2025) mengahdirkan narasumber Penyuluh Pertanian Kabupaten Tulang Bawang Barat, Tri Meriyanto. Pada kesempatan tersebut Tri Meriyanto membagikan pengalaman dan strateginya dalam mengoptimalkan usaha tani dengan biaya terjangkau sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Tri Meriyanto mengatakan bahwa pentingnya penerapan teknologi tepat guna, pemanfaatan pupuk organik, dan pengelolaan sumber daya lokal untuk mengurangi ketergantungan pada input pertanian berbiaya tinggi.
“Kunci keberhasilan bertani murah adalah kreatif memanfaatkan potensi sekitar. Petani bisa menghasilkan panen optimal tanpa merusak lingkungan,” ucapnya.
Sedangkan menurut Iswandi, Penyuluh Pertanian dari Kabupaten Palopo, Sulawesi Selatan yang menanggapi materi dari narasumber menyampaikan bahwasanya Penyuluh Pendamping senang pertanian ramah lingkungan menggunakan bahan organik.
Akan tetapi dari segi pandangan petani yang ingin cepat menghasilan ini menjadi kendala karena pertanian organik memakan waktu lama. Sehingga perlu dipikirkan dan dibuat strategi agar petani mau kembali ke pertanian organik salah satunya dengan pengarahan dari Penyuluh Pendamping, ucapnya.
Acara Ngobras diikuti oleh penyuluh dan petani dari berbagai daerah secara daring, dengan sesi diskusi interaktif yang membahas berbagai solusi praktis untuk menghemat biaya produksi tanpa mengorbankan produktivitas maupun kelestarian lingkungan.
Kementerian Pertanian berharap semangat inovasi dan kesadaran lingkungan semakin mengakar dikalangan pelaku pertanian, sehingga sektor pertanian Indonesia dapat berkembang secara berkelanjutan, mandiri, dan kompetitif. (WY/NF)
336
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.