Foto : Rapat Konsolidasi Penderasan Informasi Melalui Media Sosial, Minggu (24/08/2025).
Agronews.id, JAKARTA - Dalam rangka memperkuat arus informasi publik serta meningkatkan kehadiran positif Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian secara online menggelar Rapat Konsolidasi Penderasan Informasi Melalui Media Sosial, Minggu (24/08/2025). Rapat dihadiri jajaran strategis, mulai dari Tenaga Ahli Menteri Bidang Komunikasi, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Sekretariat Jenderal Kementan, hingga para penyuluh pertanian dari seluruh Indonesia.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak lepas dari peran aktif penyuluh sebagai garda terdepan dalam mendampingi petani.
“Penyuluh adalah ujung tombak, mereka yang tahu kondisi di lapangan, tahu masalah petani, dan menjadi agen perubahan menuju kedaulatan pangan,” tegas Mentan Amran.
Sementara, Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti menyatakan pentingnya peran penyuluh dan petani dalam mendukung implementasi kebijakan pemerintah, khususnya dalam menjaga stabilitas produksi demi swasembadapangan.
“Penyuluh pertanian menjadi ujung tombak transformasi pertanian. Ditengah fluktuasi harga komoditas, kita butuh sinergi antara kebijakan pemerintah dan realita petani di lapangan,” ucap Kabadan Santi.
Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Tedy Dirhamsyah mengatakan bahwa tujuan dilaksanakannya rapat konsolidasi ini diantaranya juga untuk mengklarifikasi isu beras langka dan harga beras yang mahal yang tengah menjadi perhatian. Beredar rumor mengenai kelangkaan beras akibat penyerapan lebih dari 4 juta ton oleh Bulog. Faktanya, menurut Kementan, stok beras Bulog hanya sekitar 8% dari total persediaan nasional, sedangkan 92% lainnya dikuasai pasar umum dan penggilingan swasta.
“Selain itu, saat ini yang sedang menjadi sorotan masyarakat adalah beras premium yang ditarik masif, sehingga muncul kesan langka. Namun, beras tetap tersedia di pasar dan tidak terjadi antrean panjang,” ungkap Tedy.
Tedy menambahkan jika Pemerintah juga telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Rp6.500/kg untuk memastikan kesejahteraan petani sekaligus menjaga harga beras tetap wajar di masyarakat.
Penyuluh pertanian adalah ujung tombak di lapangan. Melalui konsolidasi ini, kita berharap penyampaian informasi kepada masyarakat dapat berjalan lebih cepat, tepat, dan kredibel. Sehingga penyuluh diharapkan untuk dapat menyebarkan narasi positif berbasis fakta lapangan, membuat konten nyata dari kegiatan pertanian dan membuktikan bahwa program pemerintah dan HPP benar-benar mensejahterakan petani, jelas Tedy.
Kepala Biro KLI Kementan, Arief Chayono, , memberikan panduan praktis kepada para penyuluh untuk menangkal berita hoaks yang tengah marak. Diantaranya adalah jangan memberikan “Like” pada postingan negatif di Instagram/TikTok, berikan “Dislike” pada konten YouTube yang menyesatkan, tambahkan komentar positif berbasis fakta dengan tagar #KamiBersamaPakMentan dan jangan membagikan konten negatif agar tidak semakin viral serta gunakan fitur report untuk konten yang berisi hoaks, fitnah, atau ujaran kebencian, jelas Arief.
Arief juga mendorong penyuluh untuk memanfaatkan media sosial pribadi, termasuk status WhatsApp, untuk menyebarkan narasi positif menggunakan tagar #PanenRaya.
Arief menambahkan sebagai pemicu semangat, Kementan juga meluncurkan challenge konten kreatif bagi penyuluh. Lima konten terbaik setiap minggu yang viral akan mendapatkan penghargaan khusus. Konten diharapkan menampilkan kebahagiaan petani saat panen, luasan lahan, hasil produksi, hingga pembelian Bulog.
Terakhir, Arief meminta agar kita meneladani kerja keras Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang disebut pantang menyerah demi petani.
“Beliau pagi, siang, malam bekerja menjaga integritas, memikirkan distribusi subsidi bahkan saat penerbangan. Semangat ini harus kita viralkan bersama untuk membela petani,” pungkas Arief. (NF)
228
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.