Foto : Dalam diskusi daring bertajuk Ngobrol Asyik Penyuluhan (Ngobras) Volume 28, yang digelar Selasa (26/8/2025).
Agronews.id, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong penerapan sistem budidaya padi ekologi sebagai langkah nyata menuju pertanian berkelanjutan.
Upaya ini dianggap penting dalam menjaga kesuburan tanah, mengurangi ketergantungan pada bahan kimia, serta menghasilkan pangan yang sehat bagi masyarakat.
Dalam diskusi daring bertajuk Ngobrol Asyik Penyuluhan (Ngobras) Volume 28, yang digelar Selasa (26/8/2025), para penyuluh dan praktisi pertanian memaparkan inovasi dan pengalaman langsung di lapangan dalam menerapkan sistem padi ekologi.
Acara ini menjadi ruang berbagi antara penyuluh dan petani yang telah menjalankan praktik ramah lingkungan di daerahnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai bahwa pertanian berkelanjutan adalah fondasi ketahanan pangan nasional. Ia menegaskan bahwa penerapan metode pertanian ramah lingkungan harus dikawal oleh penyuluh agar benar-benar menyentuh petani di akar rumput.
“Budidaya padi organik memungkinkan peningkatan produksi tanpa merusak alam. Ini adalah bukti bahwa kita bisa menyeimbangkan antara produktivitas dan kelestarian,” ujar Amran.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa padi ekologi bukan sekadar teknik bertani, melainkan pendekatan untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam. Peran penyuluh, menurutnya, sangat krusial dalam proses edukasi dan pendampingan.
“Penyuluh adalah jembatan antara kebijakan dan praktik di lapangan. Mereka membimbing petani agar lebih percaya diri menjalankan pertanian yang sehat, hemat, dan ramah lingkungan,” kata Idha.
Salah satu penyuluh asal Kota Tegal, Iswari Gunartiningsih, memaparkan pengalamannya mendampingi petani beralih ke sistem padi ekologi. Ia memperkenalkan penggunaan pestisida nabati yang dibuat dari daun sirih, tembakau, dan bawang putih. Formula ini, kata dia, efektif mengendalikan berbagai hama seperti wereng, walang sangit, dan ulat pengisap tanpa meninggalkan residu kimia.
“Pestisida nabati ini bukan hanya murah dan mudah dibuat, tapi juga mengajarkan kemandirian. Semua bahan tersedia di sekitar petani,” jelas Iswari.
Iswari juga menjelaskan pentingnya pendekatan ekologi dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), termasuk penggunaan agen hayati seperti Trichoderma, Pseudomonas, dan Bacillus. Mikroba tersebut terbukti menjaga kesehatan tanaman dan memperkaya mikroorganisme tanah.
Christanto Panca, narasumber lain dari Kota Tegal, menyoroti penggunaan Kompos BLT (Bahari Laka Tunggale) sebagai pengganti pupuk kimia. Kompos ini berasal dari campuran daun angsana, ketapang, gamal, dan kotoran kambing yang difermentasi, menghasilkan pupuk organik dengan kandungan C-organik tinggi dan unsur hara lengkap.
“Dengan kompos BLT, tanah menjadi lebih gembur, struktur membaik, dan produktivitas tanaman meningkat. Petani bisa menghemat biaya dan hasilnya pun tak kalah,” ujar Christanto.
Tak hanya itu, Christanto juga memperkenalkan Tongkat Mantili, alat sederhana berbasis lampu indikator yang membantu petani mengetahui kualitas hara tanah dengan cepat dan praktis. Inovasi ini dinilai sangat membantu dalam pengambilan keputusan pemupukan.
Sementara itu, Mufrikhatun memaparkan hasil perbandingan antara pupuk kimia dan pupuk organik di wilayah demplot Kota Tegal.
Menurutnya, biaya pemupukan menggunakan pupuk organik BLT hanya sekitar Rp2 juta per hektare, jauh lebih hemat dibandingkan pupuk kimia yang mencapai Rp3 juta.
Bahkan produktivitasnya mencapai 10 ton per hektare, lebih tinggi dari rata-rata pupuk kimia yang hanya 8–9 ton.
“Ini bukti nyata bahwa pertanian ramah lingkungan bisa lebih untung. Selain menekan biaya, hasil panennya pun meningkat,” ujarnya.
Diskusi yang dihadiri para penyuluh dari berbagai daerah itu menyepakati bahwa sistem padi ekologi mampu memberikan dampak positif secara ekonomi dan lingkungan. Dari sisi sosial, metode ini juga memperkuat kemandirian petani dan mengurangi ketergantungan pada produk-produk pertanian berbasis impor.
69
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.