Foto: Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 13, Jumat (24/04/2026).
Agronews.id, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 13, Jumat (24/04/2026).
Mengusung tema “Pengendalian Hama Penyakit Padi di Musim Kemarau,” kegiatan ini bertujuan memberi panduan teknis bagi petani dan penyuluh untuk memitigasi risiko serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di tengah kondisi iklim yang dinamis.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan perlindungan tanaman adalah pilar utama keberlanjutan pangan. “Kunci swasembada bukan hanya pada apa yang ditanam, tapi bagaimana menjaganya hingga panen. Petani harus disiplin dalam pengamatan lapangan.
"Tidak boleh ada lahan rusak akibat hama jika pencegahan dilakukan sejak dini dengan teknologi dan manajemen yang tepat,” tegasnya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan peran SDM dalam menjaga produksi. Penyuluh adalah garda terdepan transfer ilmu pengendalian hama terpadu. Di musim kemarau, tantangan OPT sering meningkat.
Saya minta penyuluh memastikan petani memahami teknik pengendalian yang ramah lingkungan dan tetap efektif untuk menjaga stabilitas pangan,” ujarnya.
Di tempat lain, Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, menekankan kewaspadaan dini terhadap potensi El Nino. “Kita harus cepat mengantisipasi kemungkinan seperti pergeseran jenis hama di musim kemarau. Penyuluh dan petani perlu memetakan wilayah rawan, mengidentifikasi sumber air, serta memilih benih yang tepat agar produktivitas tetap terjaga, meski ancaman kekeringan diperkirakan mencapai lebih dari 20.000 hektare,” jelasnya.
MSPP kali ini menghadirkan narasumber Umi Kulsum dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan POPT yang menjelaskan jika padi menghadapi berbagai serangan OPT seperti wereng batang coklat (WBC), penggerek batang, tikus, serta penyakit blas dan tungro. Ia menekankan sistem perlindungan tanaman harus mengikuti siklus, sehingga pentingnya penerapan empat prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT), yaitu monitoring rutin, budidaya tanaman sehat, pemanfaatan agen hayati, dan pemberdayaan petani sebagai ahli PHT.
“Data historis, kondisi saat ini, dan prediksi ke depan harus terintegrasi. Melalui SIFORTUNA, peramalan bisa dilakukan secara pre-emptif atau jangka panjang,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan tren serangan hama di musim kemarau cenderung meningkat, terutama di wilayah dengan Luas Tambah Tanam (LTT) tinggi seperti Jawa Tengah.
Kegiatan MSPP Volume 13 menyimpulkan bahwa mitigasi hama di musim kemarau membutuhkan sinergi kesiapan SDM, disiplin pengamatan, dan pemanfaatan teknologi informasi. Dengan prinsip AMATI, KENALI, RAMALKAN, dan KENDALIKAN, Kementan optimistis stabilitas pangan nasional tetap terjaga menghadapi anomali iklim dan ancaman OPT. (RS)
14
© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.