Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan, Penyuluh Pertanian Kementan Perkuat Inovasi Teknologi Tepat Guna

9 jam yang lalu

Foto: Pusat Penyuluhan Pertanian kembali menyelenggarakan agenda rutin Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 15, Selasa (19/05/2026).


Agronews.id, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian kembali menyelenggarakan agenda rutin Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 15, Selasa (19/05/2026).

Kegiatan kali ini mengangkat tema “Inovasi Teknologi Tepat Guna dalam Penyuluhan Pertanian untuk Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan”, yang menyoroti pentingnya inovasi sederhana, digitalisasi pertanian, dan penguatan kapasitas petani dalam menghadapi tantangan sektor pertanian modern. 

Kegiatan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Pusluhtan RI dan diikuti oleh penyuluh pertanian serta petani dari berbagai daerah di Indonesia.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa transformasi pertanian modern harus didukung oleh inovasi teknologi yang mudah diterapkan di tingkat petani.

“Modernisasi pertanian harus terus kita dorong melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi agar produksi meningkat, biaya lebih efisien, dan petani semakin sejahtera,” tegas Amran.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa Penyuluh Pertanian memiliki peran penting dalam mempercepat adopsi teknologi di tingkat lapangan. “Penyuluh harus mampu menjadi jembatan inovasi bagi petani, terutama dalam pemanfaatan teknologi tepat guna yang sesuai kebutuhan lokal dan mudah diterapkan,” ujar Idha

Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro dalam arahannya menyampaikan bahwa swasembada pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga keberlanjutan sistem pertanian dan kemampuan petani menghadapi perubahan iklim. 

“Keberhasilan inovasi ini tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tapi juga oleh kemampuan penyuluh dalam mendampingi petani agar teknologi tersebut benar-benar diterapkan dan memberikan manfaat nyata di lapangan,” jelas Eko

Menurut narasumber Rizali Anshar, Penyuluh Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan menjelaskan bahwa tantangan pertanian saat ini semakin kompleks, mulai dari meningkatnya populasi dunia, terbatasnya jumlah petani muda, hingga perubahan iklim yang mempengaruhi produktivitas pertanian. 

Berdasarkan data tahun 2024, populasi dunia telah mencapai sekitar 8,142 miliar jiwa, sementara dari 283 juta jiwa di Indonesia jumlah petani hanya sekitar 35 juta jiwa dengan dominasi petani lanjut usia sebesar 79% dan petani milenial sebesar 21%.

Salah satu materi utama yang dibahas adalah pentingnya digitalisasi pertanian berbasis data, khususnya terkait pengukuran kondisi tanah. Rizali menjelaskan bahwa keberhasilan pemupukan sangat dipengaruhi oleh tingkat keasaman (pH) tanah. Menurutnya, tanah dengan pH terlalu rendah akan menyebabkan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, dan kalsium tidak dapat diserap optimal oleh tanaman.

Ia menjelaskan bahwa pH ideal untuk budidaya tanaman pertanian berada pada kisaran 5,6 - 7,0, dengan kondisi paling optimal berada pada pH 6,5 - 7. Apabila pH tanah berada di bawah 5,0 maka banyak unsur hara menjadi tidak tersedia bagi tanaman sehingga pertumbuhan tanaman menjadi kerdil meskipun pemupukan dilakukan secara maksimal.

Selain itu Rizal menjelaskan teknologi pengukuran tanah, kegiatan juga membahas pemanfaatan alat mesin pertanian modern yang dimodifikasi sesuai kebutuhan lapangan. Diantaranya yaitu modifikasi drone pertanian untuk penaburan benih, Modifikasi traktor tangan, Pompa berbasis tenaga surya dan Listrik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar solar.

Kegiatan juga menyoroti pentingnya digitalisasi penyuluhan pertanian melalui media sosial dan platform digital. Rizali memanfaatkan kanal YouTube miliknya sebagai sarana penyebaran informasi pertanian kepada petani secara lebih luas. Melalui video penyuluhan, petani dapat mempelajari teknik budidaya, pemupukan, pengendalian hama, hingga penggunaan alat pertanian modern secara mandiri.

Melalui kegiatan Ngobras ini, diharapkan para penyuluh pertanian semakin termotivasi untuk terus berinovasi dan memanfaatkan teknologi tepat guna dalam mendampingi petani. Kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan adaptasi penyuluh menjadi kunci penting dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan di Indonesia. (RS)

20

Superadmin

Berita Terkait


AgroNews.id merupakan situs berita populer yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan hidup, kelautan, dan perikanan Indonesia. AgroNews.id adalah portal berita web yg berisi opini, infografis, dan artikel daring, baik lokal maupun internasional dibawah PT. Agro Boga Makmur
Ikuti Kami
Follow dan Subscribe Media Sosial Kami

© 2026 Agronews.id. All Rights Reserved.